Feeds:
Pos
Komentar

STATISTIK (REGRESI GANDA)

A.  Regresi Ganda

 

Yi = b0 + biXii + b2X2i + a

 

B.  Parameter Regresi Ganda

Yi = b0 + biXii + b2X2i + ei

 

Asumsi-asumsi itu berhubungan dengan variabel pengganggu e1, yakni :

  1. Variabel penggangu e adalah variabel random
  2. Variabel random e mempunyai nilai rata-rata untuk masing-masing Xi adalah nol, atau

 

E(ei) = 0

 

3.   Homoskedastisitas, yakni varians masing-masing ei adalah sama (konstan) untuk setiap Xi

E(ei2 = s2 konstan

 

4.   Normalitas, yakni variabel pengganggu e berdistribusi secara normal, atau

 

ei ~  N(0,s2)

 

5.   Nonautocorrelation, yakni nilai ei yang berpasangan dengan Xi adalah independent terhadap uj lainnya:

 

E(eiej) = 0 untuk i ¹ j

 

6.   Variabel pengganggu ei adalah independen terhadap variabel-variabel penjelaskan Xi dimana:

 

E(eiXii) = E(eiX2i) = 0

 

  1. Tidak ada kesalahan pengukuran pada variabel-variabel penjelaskan (explanatory variables)
  2. Tidak ada multikolinieritas sempurna (perfect multicollinearity) antara variabel independen;
  3. Fungsi yang ditaksir itu adalah hubungan yang indentified

10. Spesifikasi modelnya benar

11. Vriabel-variabel penjelaskan adalah nonstochastic.

 

Apabila kita menggunakan devinisi dimana:

 

X1i = X1i – X1

 

X2i = X2i – X2

 

yi = Yi – Y

 

maka persamaan fungsi penaksirannya adalah:

 

yi = b1X1i + b2x2i

 

dengan persamaan normal kuadrad terkecilnya sebagai berikut:

 

åx1iyi = b1 åx21i + b2åx1ix2i

åx2iyi = b1 åx1ix2i + b2åx22i

C.  Pengujian Koefisien Regresi Ganda

 

Untuk melakukan pengujian terhadap koefisien regresi ganda, perlu dihitung standart error bagi masing-masing koefisien itu. Dikatakan demikian karena confidence interval masing-masing koefisien tersebut sama halnya dengan confidence interval pada koefisien regresi sederhana yakni:

 

bi = bi ± t 1/2a S bi

 

Dimana bI = b0, b1, b2 …………………. bk

bi = b0, b 1, b 2 …………………. bk

Dengan demikian, yang perlu dihitung adalah S bi

(a) Variabel b0 adalah dihitung sebagai berikut :

Karena :

B0 = Y – biXi – b2X2

=  b0 + b1X1 + b2 X2 + e – b1X1 – b2X2

Maka:

bo – b0 = -(b1 – b1)X1 – (b2 – b2)X2 + e

Berarti :

Var(b0 = X12 Var(b1) + X22 Var(b2) + 2X1X2 cov(b1, b2) –

2X1Ee(b1 – b1) – 2X2Ee(b2 – b2 + Var(e)

 

Untuk tujuan pengujian hipotesa, dilakukan tahap sebagai berikut:

1.   Pengujian terhadap b0

H0 : H0 = 0 ® garis regresi naik sari titik nol (0)

H1 : H0 ¹ 0 ® garis regresi tidak naik dari titik nol (0)

Jika level of significance adalah 5% maka :

t(1/2an – k – 1) = t 0,02514-2-1) = 12,706

t(hitung) = b0/Sb0 = 0,6441/4,5273 = -0,1423

Kesimpulan : Karena t(hitung) lebih kecil dari t(table) berarti berada dalam daerah penerimaan H0, sehingga b0 dianggap tidak berada secara bermakna dengan nol (0)

2.   Pengujian terhadap b1

H0 : H0 = 0  tidak ada hubungan yang bermakna antara Xi dengan Y

H1 : H0 ¹ 0  ada hubungan yang bermakna antara X1 dengan Y

t(hitung) = b1/Sbi = 1,6610/1,1148 = 1,4899

Karena t(hitung) lebih kecil dari t(table) maka H0, diterima, yang bermakna bahwa koefisien itu tidak berbeda secara bermakna dengan nol (0).

 

Untuk pengujian b2 sama halnya dengan cara diatas.

 

Pengujian secara keseluruhan dapan dilakukan dengan menghitung statistik F sebagai berikut :

SSR/k

F =

SSE/n-k-1

 

D.  Koefisien Determinasi Ganda

Untuk mengetahui sampai seberapa besar pengaruh variabel-variabel penjelaskan dapat dilacak dari perhitungan koefisien determinasi ganda. Koefisien  determinasi ganda itu adalah :

 

R2 = 1 –  SSE = 1 – å(Yii)2

SST          å(Yi – Y)2

= 1 – 2,4442/98 = 0,9751

Dalam perhitungan koefisien determinasi untuk satu variabel penjelaskan adalah :

 

r2 = 1 – SSE /SST

 

Dengan adanya penambahan satu variabel lagi sebagai variabel penjelaskan sehingga menjadi dua variabel penjelaskan, maka hubungan tersebut menjadi ganda. Koefisien determinasinya di sebut koefisien determinasi ganda, dengan rumus:

R2 = 1 – SSE/SST

Adanya penambahanvariabel penjelaskan dengan perhitungan koefisien determinasi yang sama maka dapat dimengerti apabila koefisien determinasi ganda dengan penambahan variabel baru itu akan semakin besar. Semakin besarnya koefisien determinasi ini karena dengan rumus diatas belum memperhitungkan besar degree of freedom atau derajat kebebasan karena penambahan variabel penjelaskan yang baru.

 

 

R2 = 1 – (1 – R2) ( n – 1 )

n – k – 1

 

= 1 – (1 – 0,9751) ( 4 – 1 ) = 0,9253

4 – 2 – 1

 

Atau :

 

R2 = R2K – 1 (1 – R2)

n – k

 

E.  Koefisien Korelasi Parsial

Dengan koefisien korelasi parsial antara variabel Y dan X1 kita akan dapat mengetahui tingkat keeratan hubungan antara kedua variabel itu dengan menganggap bahwa variabel X2 adalah konstan. Untuk menghitung koefisien korelasi parsial, perlu terlebih dahulu dihitung koefisien korelasi sederhana antara variabel Y dengan masing-masing Variabel X, dan koefisien korelasi sederhana itu adalah sebagai berikut:

 

ry1 = åX1iYi = korelasi sederhana antara Y dan X1

åx2i2åyi

 

ry2 = åX1iYi = korelasi sederhana antara Y dan X2

åx2i2åyi

 

ry2 = åX1iYi = korelasi sederhana antara X1 dan X2

åx2i2åyi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDEKATAN MATRIX

UNTUK REGRESI LINIER

 

Model regresi majemuk yaitu analisis regresi dengan dua atau lebih variabel bebas. Bab ini akan membicarakan model regresi majemuk yang paling sederhana, yaitu regresi dengan tiga variabel di mana sebuah variabek terikat dipengaruhi dua variabel bebas.

 

A.  Pendugaan Titik Koefisien Regresi Majemuk Linier

Bentuk umum garis regresi pupulasi tiga variabel dapat dituliskan sebagai berikut :

e (XI1, X2, X3) = B1.23X2 + B12.3X2 + B13.2X3

Dimana

e (X1, X2, X3)  : expected value X1 untuk nilai X2 dan X3 tertentu

XI : variabel terikat

X2, X3                      : variabel bebas

B12..3 dan B13..2 : Koefisien regresi parsial (tak dapat disebut sebagai kemiringan garis)

B1.23 : intercept

Arti dari koefisien regresi parsial adalah sebagai berikut : B12..3 mengukur perubahan nilai rata-rata X1 karena perubahan X2 per unit, jika X3 tetap. Penggemar kalkulus akan mengatakan bahwa B12.3 adalah turunan parsial e (X1, X2, X3) terhadap X2. B13.2 mengukur perubahan nilai rata-rata X1 kerena perubahan X3 per unit jika X2 tetap.

Untuk menduga koefisien regresi parsial, kita menggunakan metode least squares. Misalkan persamaan regresi sampelnya adalah :

X1 = b1.23 + b12.3X2 + b13.2X3

Maka penduga least squaresnya seperti berikut :

b12.3 =   AB – CD

F

b13.2 =    DE – AC

F

b1.23 åX1 – b12.3åX2 – b13.2åX3

n

 

dimana A = nåx2 X1 – (åX2)(åX1)

B = nåX23 – (åX3)2

C = nåX2X3 – (åX2)(åX3)

D = nåX3X1 – (åX3)(åX1)

E = nåX22 – (åX2)2

F = EB – C2

B.  Koefisien Determinasi dan Korelasi Majemuk (R2 dan R)

Dalam regresi dua variabel r2 merupakan ukuran kesesuaian garis regresi terhadap data, atau menunjukkan proporsi variasi total variabel terikat yang diterangkan oleh variabel bebas tunggal. Dalm regresi tiga variabel tunggal kita juga ingin mengetahui proporsi variasi variabel terikat yang diterangkan dua variabel bebas secara bersama-sama atau dikenal dengan koefisiensi determinasi majemuk (R2).

 

R2 =    å ( Ŷ – )2RSS

å ) Y – Ῡ )2 TSS

tapi untuk menghitung R2 digunakan rumus pengganti seperti berikut:

 

R2n(b1.23 åX1 + b12.3åX1X2 + b13.2 åX1X3) – (åX1)2

nåX21 – (åX1)2

Seperti r2, nilai R2 terletak antara 0 dan 1. Jika R2 = 1 berarti 100 persen total variasi variabel terikat diterangkan oleh garis regresi. Dilain pihak, jika R2 = 0 berarti tak ada variasi X1 yang di terangkan oleh X2 dan X3. Untuk contoh di atas R2 = 0,961.

 

C.  Pengujian Hipotesis Koefisien Regresi Parsial

Dalam inferensi regresi majemuk siperlukan asumsi tambahan terhadap asumsi normalitas. Asumsi baru itu menyatakan bahwa tak ada hubungan antara variabel bebas.

Untuk menguji apakah koefisiensi reresi parsial berbeda secara signifikan dari nol atau apakah suatu variabel bebas secara individu berhubungan dengan variabel terikat, kita dapat menggunakan distribusi t. Pengujian dapat dilakukan secara duarah maupun searah. Tanda pertidaksamaan koefisiensi regresi sering diketahui melalui pertimbangan-pertimbangan non-statistika. Nilai test ststistikanya dirumuskan

 

t =  b  –  B

Sb

dimana    b  : koefisiensi regresi parsial sampel

B  : koefisiensi regresi parsial populasi

Sb : standart error koefisiensi regresi sampel

Untuk signifikasi serentak dilakukan dengan menggunakan distribusi F yang memiliki derajat bebas pembilang 2 dan penyebut n-3. nilai test statistik untuk pengujian regresi 3 variabel dirumuskan sebagai berikut:

 

F R2/2___

(1-R2)/(n-3)

 

D.  Masalah Uji Signifikasi Koefisien Korelasi

Dalam model regresi variabel bebasnya diasumsikan non-stokastis atau, jika stokastis, ia tidak berhubungan dengan error term. Dalam model korelasi diasumsikan bahwa variabel Y maupun X adalah stokistis sehingga memiliki distribusi probabilitas. Disamping itu dalam model korelasi tidak ada perbedaan antara variabel terikat dengan variabel bebas. Sebaliknya dengan model regresi kita merancang suatu variabel sebagai variabel terikat dan variabel lain sebagai variabel penentu.

Perbedaan mendasar antara model korelasi dan regresi ini menyebabkan uji signifikasi koefisien korelasi tidak dilaksanakan.

 

E.  Penyimpangan Beberapa Asumsi Regresi Model Klasik

1.   Multicollinearity

Istilah  multicollinearity diperkenalkan oleh Frisch. Pada mulanya istilah itu berarti terdapat hubungan yang sempurna (pasti) antara variabel bebas. Hal ini mengakibatkan varians (standart error) koefisien regresi sampel mempunyai nilai tak terbatas. Sehingga koefisien regresi akan tidak signifikan berbeda dari nol.

Pada umumnya hubungan antara variabel bebas adlah titik sempurna. Jika hal ini terjadi maka varians dan deviasi atandart akan lebih besar dibanding jika tidak ada multicollinearity sama sekali. Akibat selanjutnya, statistika t cenderung makin kecil atau koefisien regresi cenderung tidak signifikan berbeda dari nol.

Ada beberapa indikasi adanya multicollinearity :

  1. Jika statistik F signifikan tetapi statistik t tidak ada yang signifikan
  2. Jika R2 relatif besar tetapi statistika t tak ada yang signifikan.

 

 

2.   Autokorelasi

Autokorelasi dapat terjadi baik pada regresi sederhana maupun regresi majemuk. Istilah autokorelasi berarti terjadi hubungan antara error term pada observasi dengan error term pada observasi yang lain; akibat variabel terikat pada satu observasi berhubungan dengan observasi yang lain. Jasi autokorelasi merupakan kerolasi time serias.

 

3.   Heteroscedasticity

Heteroscedasticity berarti varians error term tidak sama setiap observasi. Dengan adanya heteroscedasticity ini penduga least squares tetap tidak bias dan konsisten tetapi varians tidak menurun meskipun ukuran sample diperbesar menjadi tak terhingga. Heteroscedasticity dapat terjadi baik pada regresi dua variabel maupun regresi majemuk.

 

 

1. Pengertian Koperasi

Masyarakat telah banyak yang mendengar tentang koperasi,bahkan banyak diantaranya yang telah menjadi anggota-anggota dan terpilih menjadi pengurus koperasi. Tetapi pengertian tentang koperasi itu sendiri masih berbeda-beda.

Koperasi merupakan singkatan dari kata Co dan Operation. Koperasi adalah suatu kumpulan orang-orang untuk bekerja sama demi kesejahteraan bersama. Yang saya ketahui berdasarkan UU nomor 12 tahun 1967,koperasi Indonesia adalah organisasi ekonomi rakyat yang bewatak sosial dan beranggotakan orang-orang,badan-badan hukum koperasi yang merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersdama berdasar atas asas kekeluargaan.

Berikut di bawah ini adalah landasan koperasi Indonesia yang melandasi aktivitas koperasi di Indonesia.

  • Landasan Idiil (Pancasila)
  • Landasan Mental (Setia Kawan dan Kesadaran Diri Sendiri)
  • Landasan Struktural dan Gerak (UUD 1945 pasal 33 ayat 1)

Lebih jelasnya,koperasi itu badan usaha (bangun perusahaan) yang melayani anggota dengan kebutuhan ekonominya,yaitu barang atau jasa. Tetapi,bukan itu saja. Koperasi adalah juga suatu gerakan yang terorganisasi yang didorong oleh cita-cita rakyat mencapai masyarakat yang maju,adil dan makmur seperti yang diamanatkan oleh UUD 1945 khususnya pasal 33 ayat (1)

 

Di bawah ini beberapa definisi koperasi yang didapatkan dari beberapa sumber,seperti:

1. Menurut ILO (International Labour Organization)

Koperasi merupakan Akses ke lapangan kerja. Akses ke lapangan kerja adalah jalan yang paling menjamin untuk bisa keluar dari kemiskinan. Dalam definisi ILO,terdapat 6 elemen yang dikandung koperasi sebagai berikut.

  • Koperasi adalah perkumpulan orang-orang
  • Penggabungan berdasar kesukarelaan
  • Terdapat tujuan ekonomi yang ingin dicapai
  • Koperasi yang dibentuk,diwasi dan dikendalikan secara demokratis
  • Erdapat kontribusi yang adil terhadap modal yang dibutuhkan
  • Anggota koperasi menerima resiko dan manfaat secara seimbang

2. Menurut Chaniago

Koperasi adalah suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota dengan bekerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan jasmaniah para anggotanya. pengertian ini berdasarkan buku yang dibuat oleh Drs.Arifinal Chaniago (1984).

3. Menurut Hatta (Bapak Koperasi Indonesia)

Koperasi adalah usaha bersama untuk memperbaiki nasib penghidupan ekonomi berdasarkan prinsip saling tolong-menolong. Menurut Hatta,setiap koperasi harus melaksanakan 4 asas,yaitu:

  • Tidak boleh dijual dan dikedaikan barang-barang palsu
  • Harga barang harus sesuai dengan harga pasar setempat
  • Ukuran harus benar dan terjamin
  • Jual beli dengan tunai. Kredit dilarang karena menggerakan hati orang untuk membeli diluar kemampuannya.

4. Menurut Munkner

Munkner mendefinisikan koerasi sebagai organisasi tolong-menolong yang menjalankan “urusniaga” secara kumpulan,yang berasaskan tolong menolong.

5. Menurut UU no.25 thn 1992

Definisi yang diambil dari berbagai sumber ini,menunjukkan bahwa koperasi berkembang dimana-mana. Berikut ini perpaduan yang telah dikumpulkan:

  • Koperasi adalah organisasi orang-orang atau badan hukum
  • Koperasi adalah suatu perusahaan atau organisasi dimana orang berkumpul bukan untuk menyatukan uang melainkan sebagai akibat kesamaan kebutuhan ekonomi.
  • Koperasi adalah perusahaan yang harus dapat memberikan pelayanan ekonomi kepada anggotanya dn masyarakat lingkungana
  • Koperasi adalah perusahaan yang didukung oleh orang sebagai anggotanya dalam menghimpun kekuatan-kekuatan
  • Koperasi berwajah ganda bila dilihat dari tujuannya yaitu untuk memenuhi kebutuhan anggotanya juga merupakan alat untuk memproses pelaksanaan pembangunan.

6. Menurut Dr.Fay

Koperasi adalah suatu perserikatan dengan tujuan berusaha bersama yang terdiri atas mereka yang lemah dan diusahakan selalu dengan semangat tidak memikirkan diri sendiri sedemikian rupa,sehingga masing-masing sanggup menjalankan kewajibannya sebagai anggota dan mendapat imbalan sebanding dengan kesempatan mereka terhadap organisasi.

7. Menurut Calvert

Koperasi adalah organisasi orang-orang yang hasratnya dilakukan secara sukarela sebagai manusia atas dasar kesatuan untuk mencapai tujuan masing-masing.

8. Menurut ICA (International Cooperation Allience)

Koperasi adalah kumpulan orang-orang atau badan hukum yang bertujuana untuk perbaiki sosial ekonomi anggotanya dengan memenuhi kebutuhan anggotanya dengan jalan berusaha saling tolong menolong dengan cara membatasi keuntungan,usaha tersebut harus didasarkan atas prinsip-prinsip koperasi.

9. Menurut Prof.Marvin,A.Schaars

Koperasi adalah suatu badan usaha yang secara sukarela dimiliki dan dikendalikan oleh anggota yang adalah juga pelanggannya dan dioperasikan oleh mereka dan untuk mereka atas dasar nirlaba atau atas dasar biaya.

10. Menurut UU Koperasi India

Koperasi adalah organisasi masyarakat atau kumpulan orang-orang yang bertujuana untuk meningkatkan pendapatan atau mengusahakan kebutuhan ekonomi para anggotanya sesuai dengan prinsip-prinsip koperasi.

 

2. PRINSIP-PRINSIP KOPERASI

Koperasi adalah pekumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi ekonomi,sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka kendalikan secara demokratis.

Koperasi-koperasi berdasarkan nilai –nilai mendorong diri sendiri,tanggung jawab sendiri,demokratis,persamaan,keadilan dan kesetiakawanan. Dalam ilmu ekonomi kopeasi terdapat prinsip – prinsip koperasi.dibawah ini saya akan memberikan prinsip-prinsip koperasi berdasakan sumber yang saya dapatkan.

  • Prinsip menurut Munkner

Terdapat 12 prinsip dan 7 variabel gagasan umu sebagai berikut:

7 variabel gagasan umum:

  1. menolong diri sendiri berdasarkan kesetiakawanan
  2. demokrasi
  3. kekuatan modal tidak diutamakan
  4. ekonomi
  5. kebebasan
  6. keadilan
  7. memajukan kehidupan sosial melalui pendidikan

12 prinsip koperasi:

  1. Keanggotaan bersifat sukarela
  2. Keanggotaan terbuka
  3. Pengembangan anggota
  4. Identitas sebagai pemilik dan pelanggan
  5. Manajemen dan pengawasan dilaksanakan secara demokratis
  6. Koperasi sebagai kumpulan orang-orang
  7. Modal yang berkaitan dengan aspek sosial tidak dibagi
  8. Efisiensi ekonomi dari perusahaan koperasi
  9. Perkumpuilan dengan sukarela

10. Kebebasan dalam pengambilan keputusan dan penetapan tujuan

11. pendistribusian yang adil dan merata akan hasil-hasil ekonomi

12. Pendidikan anggota

  • Prinsip menurut Rochdale

Prinsip –prinsip koperasi rochdale menurut bentuk dan sifat aslinya:

  1. Pengawasan secara demokratis
  2. Keanggotaan yang terbuka
  3. bunga atas modal dibatasi
  4. Pembagian SHU
  5. Penjualan sepenuhnya dengan tunai
  6. Barang-barang yang dijual harus asli dan tidak dipalsukan
  7. Menyelenggarakan pendidikan kepada angota dengan prinsip-prinsip koperasi
  8. Netral terhadap politik dan agama

Prinsip – prinsip koperasi Rochdale ini selanjutnya merupakan landasan kerja koperasi:

  1. Pembelian barang secara tunai
  2. Harga jual sama dengan harga pasar setempat
  3. Mutu barang baik,timbangan dan ukurannya benar
  4. Pemberian bunga atas modal dibatasi
  5. Keuntungan dibagi bedasarkan banyaknya pembelian
  6. Sebagian keuntungan dipergunakan untuk cadangan dana pendidikan dan dana sosial
  7. Keanggotaan terbuka untuk umum,netral terhadap agama dan politik
  • Prinsip menurut Raiffesien

Prinsip dari Raiffesien adalah:

  1. Swadaya
  2. Daerah kerja terbatas
  3. SHU untuk cadangan
  4. Tanggung jawab anggota tidak terbatas
  5. Pengurus bekerja atas dasar kesukarelaan
  6. Usaha hanya pada anggota
  7. Keanggotaan berdasarkan watak,bukan uang

Sedangkan landasan dan cara kerja yang ditempuh olehnya,yaitu:

  1. Petani dibiasakan menabung
  2. Adanya pengawasan terhadap pemakaian kredit
  3. keanggotaan dibatasi agar antar anggota dapat saling mengenal dan dapat bekerja sama dengan baik
  4. Penglolaan oleh anggota dan tidak mendapat upah
  5. Keuntungan bersih menjadi milik bersama
  • Prinsip menurut Schulze

Ia memberitahukan dasar-dasar yang diberikan adalah koperasi kredit khususnya untuk industri kecil. Untuk membentuk koperasi kredit adalah dengan cara :

  1. Membeli saham untuk menjadi anggota
  2. Mengumpulkan modal dari penyumbang yang mau memberikan uangnya sebagai modal
  3. Membatasi pinjaman untuk jangka pendek
  4. Menetapkan wilayah kerja diperkotaan
  5. Menggaji para pengurus
  6. Membagi keuntungan kepada para anggota

Sedangkan inti dari prinsip-prinsip menurutnya adalah:

  1. Swadaya
  2. Daerah kerja tiak terbatas
  3. SHU untuk cadangan dan untuk dibagikan kepada anggota
  4. Tanggung jawab anggta terbatas
  5. Pengurus bekerja dengan mendapat imbalan
  6. Usaha tidak terbatas tidak hanya untuk anggota
  • Prinsip menurut ICA

ICA merupakan organisasi gerakan koperasi tertinggi didunia yang didirikan pada tahun 1895. siding ICA pada tahun 1966 merumuskan prinsip-prinsip koperasi,sebagai berikut:

  1. Keanggotaan koperasi secara terbuka tanpa adanya pembatasan yang dibuat-buat
  2. Kepemimpinan yang demokratis atas dasar satu orang satu suara
  3. Modal menerima bunga yang terbatas,itupun bila ada
  4. SHU dibagi tiga:
  • Sebagian untuk cadangan
  • Sebagian untuk masyarakat
  • Sebagian untuk dibagikan kembali kepada anggota sesuai dengan jasa masing-masing
  1. Semua koperasi harus melaksanakan pendidikan secara terus menerus
  2. Gerakan koperasi harus melaksanakan kerja sama yang erat,baik di tingkat regional,nasional,maupun internasional
  • Prinsip menurut M.M Coady

Ia mengembangkan bentuk koperasi dengan cara mengadakan pendidikan kepada orang yang lebih dewasa. Lembaga pendidikan formal yang membantu mengembangkan koperasi tersebut adalah Coady International Institute di kanada.

  • Prinsip –prinsip koperasi Indonesia

– Menurut UU No.12 tahun 1967

Terdapat 4 undang-undang menyangkut perkoperasian yaitu:

  1. UU No.79 Tahun 1958 tentang perkumpulan koperasi
  2. UU No.14 Tahun 1965
  3. UU No.12 Tahun 1967 tentang pokok-pokok perkoperasian
  4. UU No.25 Tahun 1992 tentang perkoperasian

Menurut UU No.25 Tahun 1992

Prinsip-prinsip koperasi adalah sebagai berikut:

  1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
  2. Pengelolaan dilakukan secara demokratis
  3. Pembagian SHU dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota
  4. Pemberian balas jasa terhadap modal terbatas
  5. Kemandirian
  6. Pendidikan perkoperasian
  7. Kerjasama antar koperasi

Terdapat 5 prinsip koperasi yang menjadi pedoman koperasi bekerja ialah:

  1. Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka
  2. Pengelolaan dilakukan secara demokratis
  3. Pembagian sisa hasil usaha dilakukan secara adil sebanding dengan dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota
  4. Pemberian balas terhadap modal terbatas
  5. Kemandirian

Sedangkan prinsip-prinsip yang menjadi pengembangan diri koperasi adalah:

  1. Pendidikan perkoperasian
  2. Kerjasama antar koperasi

– Keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka

Terdapat 2 makna “sifat sukarela” dalam keanggotaan koperasi yaitu:

  1. Keanggotaan koperasi tidak boleh dipaksakan oleh siapa pun
  2. Seorang anggota dapat mengundurkan diri dari koperasinya sesuai dengan syarat yang ditentukan dalam AD/ART koperasi

– Pengelolaaan dilakukan secara demokratis

Prinsip penglolaan secara demokratis didasarkan pada kesamaan hak suara bagi setiap anggota dalam penglolaan kperasi. Demokrasi koperasi mengandung arti:

  1. Pengelolaan koperasi dilakukan atas kehendak dan keputusan para anggota
  2. Anggota adalah pemegang dan pelaksaan kekuasaan tertinggi dalam koperasi.

– Pembagian SHU dilakukan secara adil sebanding dengan besarnya jasa usaha masing-masing anggota.

– Pemberian balas jasa yang terbatas terhadap modal

Anggota adalah pemilik koperasi,sekaligus pemodal dan pelanggan. Simpanan yang sisetorkan oleh anggota kepada koperasi akan digunakan koperasi untuk melayani anggota,termasuk dirinya sendiri.

– Kemandirian

Kemandirian pada koperasi dimaksudkan bahwa koperasi harus mampu berdiri sendiri dalam hal pengambilan keputusan usaha dan oranisasi. Mandiri berarti mampu berdiri sendiri tanpa tergantung pada pihak lain. Prinsip ini pada dasarnya merupakan factor pendorong (motivator) bagi koperasi untuk meningkatkan keyakinan akan kekuatan sendiri dalam mencapai tujuan.

– Pendidikan koperasi

Inti dari prinsip pendidikan koperasi adalah bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia koperasi (SDMK) adalah sangat vital dalam memajukan koperasinya. SDMK yang baiklah maka cita-cita atau tujuan koperasi dapat diwujudkan.

– Kerjasama antar koperasi

Kerjasama antar koperasi dimaksudkan untuk saling memanfaatkan kelebihan dan menghilangkan kelemahan masing-masing,sehingga hasil akhir dapat dicapai secara optimal. Prinsip ini sebenarnya lebih bersifat “strategi” dalam bisnis.

 

MATERI MANAJEMEN KOPERASI

1.1.  Pengertian Organisasi koperasi

Pengertian koperasi dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu pengertian umum dan menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.

Pengertian  secara  umum :  Koperasi  adalah  suatu  perkumpulan  yang beranggotakan orang-orang atau badan-badan hukum koperasi yang memberikan kebebasan masuk dan keluar sebagai anggota, dengan bekerjasama secara kekeluargaan menjalankan usaha untuk mempertinggi kesejahteraan para anggotanya.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian di

berikan pengertian sebagai berikut : Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan

orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.

Inti dari pengertian koperasi tersebut diatas dapat diuraikan sebagai berikut :

  1. Koperasi Sebagai Badan Usaha

Koperasi sebagai organisasi ekonomi yg berwatak sosial harus mampu menjalan  kegiatannya secara seimbang, jangan sampai kegiatan ekonominya tidak diisi dan hanya di landasi oleh nilai-nilai kemasyarakatan tertentu.

Sebagai badan usaha, koperasi adalah sebuah perusahaan yang harus mampu berdiri sendiri menjalankan kegiatan usahanya mendapatkan laba. Sehingga dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya para anggota-anggotanya.

  1. Beranggotakan Orang-orang

Pengaruh dan penggunaan modal jangan mengurangi arti koperasi Indonesia. I

Ini berarti koperasi harus benar-benar mengabdikan kepada perikemanusiaan

dan bukan kepada kebendaan.

  1. Asas Kekeluargaan

Koperasi harus menyadari bahwa di dalamnya terdapat kepribadian Indonesia.

Asas kekeluargaan mencerminkan adanya kesadaran dari hati nurani manusia

untuk mengerjakan segala sesuatu dalam koperasi : oleh semua, untuk semua di

bawah pimpinan pengurus yang dipilih anggota atas dasar keadilan, kebenaran

dan keberanian berkorban bagi kepentingan bersama.

1.2.  Ciri-ciri Pokok Koperasi Indonesia

Dari pengertian yang telah dipaparkan di muka maka beberapa cirri pokok berikut haruslah nampak di dalam koperasi, antara lain :

  1. Koperasi Indonesia adalah kumpulan orang-orang dan bukan kumpulan modal.

Ini berarti bahwa koperasi Indonesia harus benar-benar mengabdikan kepada

perikemanusiaan bukan peri kebendaan.

  1. Koperasi Indonesia bekerjasama, bergotong royong berdasarkan persamaan

derajat, hak dan kewajiban yang berarti koperasi seharusnya adalah merupakan

wadah demokrasi ekonomi dan social

  1. Segala kegiatan koperasi Indonesia harus didasarkan atas kesadaran para anggota

Dalam koperasi tidak boleh ada paksaan, ancaman, intimidasi dan campur tangan

dari pihak lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan internal koperasi.

  1. Tujuan koperasi Indonesia harus benar-benar merupakan kepentingan bersama

dari para anggotanya dan tujuan tersebut dicapai berdasarkan karya dan jasa yang

disumbangkan para anggota masing-masing.

1.3.  Pentingnya Manajemen Koperasi

Manajemen merupakan salah satu bagian penting dari organisasi koperasi. Berhasil tidaknya suatu koperasi sangat tergantung pada mutu dan kerja  manajemennya. Apabila

orang-orang dalam manajemen ini memiliki kejujuran, kecakapan dan giat dalam bekerja

maka besarlah kemungkinannya koperasi akan maju pesat atau setidak-tidaknya tendensi untuk terjadinya kebangkrutan dapat ditanggulangi dan sebaliknya.

Manajemen memang bukanlah satu-satunya unsur yang menentukan gagal tidaknya

suatu usaha, tetapi  bagaimanapun  orang-orang  yang dalam manajemen ini mempunyai peranan penting. Lebih-lebih   dalam  organisasi  koperasi  yang bukan kumpulan modal

uang melainkan kumpulan orang-orang. Sehingga dari sekian banyak koperasi yang gagal banyak diantaranya yang disebabkan oleh kekacauan dalam bidang manajemen.

Setiap usaha kerjasama harus ada seorang pejabat atau lebih yang memimpin segenap proses penyelenggaraan dalam usaha kerjasama yang desebut dengan  manajer.

Dalam proses penyelenggaraan usaha kerjasama, manajer itu melakukan pekerjaan dari dua segi :

1). Menggerakkan orang-orang, yaitu mendorong, memimpin, menjuruskan, menertibkan

orang-orang agar melakukan perbuatan-perbuatan dalam menuju kea rah tercapainya

tercapainya tujuan yang telah ditentukan dalam usaha kerjasama itu.

2). Mengarahkan fasilitas, yaitu menghimpun, mengatur, memelihara dan mengendalikan

alat, benda, uang dan metode kerja serta peralatan apapun yang diperlukan untuk

menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan dalam usaha kerja sama itu.

Dalam menggerakkan orang-orang dan mengerahkan fasilitas, manager melakukan lima pola perbuatan : perencanaan, pembuatan keputusan, pembimbingan, pengorganisasian, pengendalian.

  1. Perencanaan

Menentukan terlebih dahulu hal-hal yang harus dikerjakan dan cara mengerjakan

nya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

  1. Pembuatan keputusan

Melakukan pemilihan diantara berbagai kemungkinan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan, pertentangan-pertentangan dan keragi-raguan yang timbul dalam proses penyelenggaraan usaha kerja sama itu.

  1. Pembimbingan

Memerintah, menugaskan, memberi arah dan menuntut bawahan untuk melaksana

kan pekerjaan-pekerjaan dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

  1. Pengkoordinasian

Menghubung-hubungkan, menyelaraskan orang-orang dan pekerjaannya sehingga semua berlangsung secara tertib dan seirama menuju kearah tercapainya tujuan tanpa terjadinya kekacauan, percekcokan atau kekosongan kerja.

  1. Pengendalian

Melakukan kegiatan pemeriksaan, mencocokkan & mengusahakan agar pekerjaan

pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan hasil yang dikehendaki.

Manajemen merupakan kebutuhan mutlak bagi setiap organisasi. Sebagaimana di ketahui  hakikat  manajemen  adalah  mencapai  tujuan melalui tangan orang lain. Pencapaian tujuan melalui tangan orang lain itu dilakukan oleh manajemen dengan melaksanakan fungsi-fungsi manajemen yaitu fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Dengan demikian, keberhasilan manajemen sebuah organisasi akan sangat tergantung pada pelaksanaan masing-masing fungsi tersebut.

Koperasi sebagai bentuk badan  usaha  yang  bergerak di bidang perekonomian, mempunyai tatanan manajemen  yang  berbeda  dengan  badan usaha non koperasi. Perbedaan  tersebut  terletak  pada  asas  koperasi  yang  bersifat   demokratis dimana pengelolaan koperasi adalah dari. Oleh dan untuk anggota. Karena itu dalam tatanan

manajemen koperasi Indonesia mempunyai unsur-unsur : Rapat anggota, pengurus, pengawas dan manajer.

Dalam manajemen koperasi kekuasaan tertinggi adalah di tangan Rapat Anggota, sebab koperasi adalah organisasi diri, oleh dan untuk anggota. Karena rapat anggota yang pada hakekatnya merupakan suatu kegiatan organisasi dengan sendirinya tidak dapat

mengelola kegiatan-kegiatan koperasi. Baik pengurus maupun pengawas dipilih oleh anggota-anggota dan bertindak untuk dan atas nama anggota.

Seperti badan usaha lainnya, koperasi juga akan menghadapi berbagai persoalan

dalam mencapai tujuan. Sebagian besar tugas manajemen adalah memecahkan persoalan persoalan itu dan membuat keputusan yang akan menuju sasaran yang dikehendaki.

 

Kepemimpinan Dalam Koperasi

Ada banyak yang bertanya, “Apa kunci sukses koperasi?”. Ada banyak jawaban yang bisa diberikan. Tapi kami ingin menyampaikan satu hal yang pokok, bahwa kunci sukses utama dalam sebuah koperasi ada pada kepemimpinan.
Pada tahap awal pendirian dan pengembangannya, koperasi sangat memerlukan seorang pemimpin yang mampu menjadi motor penggerak, pembina yang mengarahkan pada prinsip-prinsip koperasi yang sesungguhnya, pemberani yang mampu melakukan terobosan usaha baru bahkan untuk sesuatu yang sangat mustahil sekalipun, tegar dan konsisten dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.
Sangat penting menempatkan kedudukan pemimpin dalam sebuah koperasi. Kepemimpinan koperasi dilakukan secara kolektif oleh pengurus. Seorang ketua dalam kepengurusan koperasi bukanlah pemimpin yang memiliki hak-hak yang lebih tinggi. Dia adalah orang pertama diantara yang sama, dan bertindak sebagai koordinator. Menurut pakar manajemen dari Perancis, Paul Valery, keterampilan yang dibutuhkan oleh seorang pemimpin, antara lain :

  • Memiliki integritas dan keteladanan. Intergritas yaitu kualitas yang membuat orang lain percaya atas kepemimpinannya, sedangkan keteladanan merupakan contoh yang baik yang diperlihatkan pemimpin.
  • Memiliki tim manajemen yang kuat dan hebat. Pemimpin yang baik akan membangun ”tim manajemen” yang kuat dari berbagai keahlian.
  • Flexible dan responsif. Seorang pemimpin harus menyederhanakan hurarki kepemimpinannya, jangan terlalu formal serta mempermudah pengambilan keputusan. Seorang pemimpin juga harus responsif dan tanggap terhadap setiap permasalahan yang timbul untuk segera diselesaikan.
  • Konsisten. Seorang pemimpin harus memiliki prinsip dan melaksanakan prinsip-prinsip tersebut dengan konsisten sehingga kinerja perusahaan cenderung membaik.
  • Mampu membangun inspirasi bawahan. Pemimpin harus mampu memberdayakan dan memotivasi bawahannya untuk bekerja baik serta menjauhkan dari sikap egois.
  • Memiliki kepribadian yang baik, ramah, tenang dan memiliki ide cemerlang serta cakap mengambil keputusan.

Pada tahap selanjutnya, perlu terus dilakukan kaderisasi anggota dan pemimpin yang dapat menguatkan dan melangsungkan kehidupan koperasi untuk masa depan. Kunci sukses juga terletak pada kesabaran dalam menghadapi setiap rintangan dan kesulitan. Semoga sukses untuk koperasi kita.

 

Tools ‹ berandakampus — WordPress.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1       LATAR BELAKANG

Menghadapi era globalisasi ini banyak orang yang meramalkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, dimana pada masa mendatang akan membawa tantangan dan  kesulitan-kesulitan yang harus dihadapi oleh masyarakat dan negara yang sedang membangun ini.

Walaupun masa mendatang membawa tantangan dan kesulitan, suatu perusahaan tetap dituntut untuk efektif dalam pengelolaan perusahaannya, karena bila tidak demikian perusahaan itu tidak dapat bersaing dengan perusahaan lain atau tidak dapat mengikuti perubahan yang terjadi. Untuk menghadapi tantangan dan kesulitan tersebut maka aset perusahaan yang paling berharga adalah sumber daya manusianya. Sumber daya manusia ini berharga, bukan saja untuk tujuan perkembangan ekonomi, tetapi untuk segala aspek perkembangan kehidupan.

Peranan dan tantangan manajemen sumber daya manusia terus berkembang dan semakin hari semakin bertambah banyak, beraneka ragam, rumit, fleksibel dan penting seiring dengan makin besarnya perusahaan, makin rumitnya tugas yang harus dikerjakan, makin besarnya dampak lingkungan serta dinamikanya, makin luas dan besar keterpaduannya dengan lingkungan dan makin besar ketidakpastian yang harus dihadapi perusahaan.

Pada saat ini pentingnya peranan manajemen sumber daya manusia tercermin dari kebijaksanaan perusahaan untuk mengatur sumber daya manusianya. Sehingga dapat berperan besar dalam bekerja sama dan mendukung strategi perusahaan.

Proses untuk mendapatkan, menyeleksi, dan menempatkan tenaga kerja telah menempati peran yang terpenting bagi perusahaan. Faktor manusia pada kenyataannya tidak dapat disangkal lagi dan telah disadari merupakan faktor penentu bila dibanding dengan segala alat pelengkap seperti uang, mesin dan sebagainya didalam usaha-usaha perusahaan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu,tenaga kerja yang cakap adalah salah satu faktor penting bagi negara-negara yang sedang berkembang dan kurangnya tenaga-tenaga yang cakap akan menghambat perkembangan tersebut.

Setiap bentuk organisasi atau perusahaan apapun bentuknya akan membutuhkan orang-orang dalam melaksanakan setiap fungsi kegiatan yang ada didalam suatu organisasi atau perusahaan tersebut. Didalam organisasi perusahaan, kebutuhan akan orang-orang sangatlah penting karena menyangkut masalah maju mundurnya perusahaan.

Oleh sebab itu, seleksi tenaga kerja diperlukan untuk melanjutkan tujuan organisasi seperti kelangsungan hidup, pertumbuhan atau keuntungan. Seleksi tenga kerja dimaksudkan untuk memilih tenaga kerja cakap yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan organisasi di masa sekarang dan  yang akan datang. Seleksi tenaga kerja juga memberikan sarana untuk mencapai tujuan manajemen sumber daya manusia yang ditentukan dalam perencanaan sumber daya manusia.

Oleh karena itu, semua kebutuhan tenaga kerja harus diketahui secara dini oleh pemimpin perusahaan, sehingga seleksi tenaga kerja mampu menyediakan kebutuhan tenaga kerja terhadap lowongan-lowongan jabatan yang disebabkan oleh perpindahan, adanya jabatan-jabatan baru dan jabatan-jabatan yang kosong. Proses seleksi dilaksanakan dengan mencari calon karyawan yang memiliki kemampuan intelejensia yang tinggi, dan tekad yang kuat dalam melaksanakan pekerjaan. Upaya-upaya peningkatan keterampilan dan kemampuan karyawan dilakukan oleh perusahaan melalui pengembangan dan pelatihan kerja, guna menciptakan karyawan yang memiliki etos kerja serta prestasi kerja  yang tinggi.

dimana pada saat ini seluruh produk dipasarkan ke kota-kota di Indonesia dan perusahaan ini termasuk dalam perusahaan yang cukup besar yang membutuhkan keahlian sumber daya manusia yang tinggi serta berkualitas, dimana hal tersebut harus diatasi oleh tenaga kerja yang tingkat kemampuannya tinggi atau kreatif dalam menjalankan perusahaan. Untuk itu perusahaan membutuhkan tenaga kerja dan sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas, karena hal tersebut merupakan faktor penting bagi perusahaan dalam menerapkan strateginya guna mencapai tujuan perusahaan.

Pada akhirnya, strategi seleksi yang turut mempertimbangkan kecocokan antara individu dengan perusahaan, disamping faktor pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dimiliki oleh calon karyawan  akan memberikan hasil yang positif bagi perusahaan. Semakin efektif proses seleksi, semakin besar kemungkinan untuk mendapatkan pegawai yang tepat bagi perusahaan. Selain itu, seleksi yang efektif akan berpengaruh langsung pada prestasi kerja karyawan dan kinerja finansial perusahaan. Dengan demikian maka pengembangan dan perencanaan system seleksi merupakan hal penting untuk dilaksanakan setiap perusahaan  supaya proses yang berlangsung cukup lama dan memakan biaya tersebut tidak sia-sia

 

1.2       TUJUAN PENULISAN

Makalah ini dibuat agar mahasiswa dapat memahami dan mengerti dalam mata kuliah MANAJEMENT SUMBER DAYA MANUSIA dan dapat memberikan pengetahuan kepada kita sebagai pembaca serta mempelajari sebagai masalah yang kita bahas dalam manajement sumber daya manusia.

1.3       PERUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah apa itu pengertian seleksi, pendekatan dalam proses seleksi, serta apa saja teknik yang di pergunakan dalam penyeleksian

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

SELEKSI TENAGA KERJA

1.         Pengertian Seleksi

Seleksi maksudnya pemilihan tenaga kerja yang sudah tersedia. Seleksi pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan tenaga kerja yang memenuhi syarat dan memiliki kualifikasi yang sesuai dengan deskrifsi pekerjaan yang ada atau sesuai dengan kebutuhan organisasi/perusahaan.

Tujuan seleksi adalah mendapatkan tenaga kerja yang paling tepat untuk memangku suatu jabatan tertentu. Mengarah pada tujuan seleksi yang demikian itu, setiap organisasi yang bersangkutan senantiasa akan berusaha dengan biaya yang serendah mungkin dengan menggunakan cara yang paling efisien, tetapi efektif.

 

2.         Faktor Yang Harus Diperhatikan dalam Seleksi

1.   Penawaran tenaga kerja

®     Semakin bayak yang seleksi semakin baik bagi organisasi ® dipilih    yang memenuhi persyaratan yang ditentukan.

2. Etika

®     Perekrut, pemegang teguh norma, disiplin pribadi yang tinggi, kejujuran           yang tidak tergoyahkan, integritas karakter, serta objektivitas         berdasarkan kretiria yang rasional.

3. Internal organisasi

®     Besar kecilnya anggaran, menentukan jumlah yang harus direkrut.

 

 

 

4. Kesamaan Kesempatan

®     ada yang dikriminatif, kadang karena warna kulit, daerah asal, latar     belakang sosial. Dengan kata lain ada pok minoritas dengan            keterbatasan-keterbatasan.

 

3.         Langkah-langkah dalam Proses Seleksi

  1. Terima surat lamaran
  2. Ujian
  3. Wawancara
  4. Chee latar belakang dan surat referensi
  5. Evaluasi kesehatan
  6. Wawancara kedua dengan atasan langsung
  7. Keputusan atas lamaran

 

Proses seleksi

  1. Test Psiko/kepribadian
  2. Test pengetahuan
  3. Test pelaksanaan pekerjaan.

 

 

4.         Dasar Kebijakan

Pada dasarnya proses seleksi dimulai setelak kumpulan para pelamar yang memenuhi syarat diperoleh melalui suatu penarikan atau seleksi. Proses seleksi ini merupakan serangkaian langkah kegiatan yang digunakan untuk memutuskan pelamar diterima atau tidak diterima.

Pada umumnya untuk penarikan dan seleksi ini, organisasi bergabung sebagai employment function dan depertemen personalia. Suatu analisis pekerjaan, perencanaan SDM dan perbaikan dilakukan untuk keperluan membantu seleksi personalia. Dengan demikian, pelaksanaan proses seleksi harus dilaksanakan dengan cara sebaik-baiknya dan sesuai rencana. Hal ini tidak lain merupakan dasar kebijaksanaan yang harus kita pegang dalam proses seleksi.

 

5.         Pendekatan dalam Proses Seleksi

Proses seleksi menurut beberapa ahli dianggap sebagai proses penyewaan tenaga ahli (the hiring process). Mereka menganggap hiring dan selection merupakan konsep ketenagakerjaan yang “interchangeable” (dapat saling ditukar istilahnya). Dalam proses seleksi, akan terjadi di antara “menyewa” (bagi pelamar tenaga kerja yang lolos seleksi) dengan “tidak jadi menyewa” (bagi pelamar yang tidak memenuhi syarat), maka mereka lebih menyukai “proses seleksi” dari pada “proses penyewaan” tenaga kerja.

Dalam proses seleksi ada dua pendekatan diantaranya:

a.   Pendekatan succesive hurdles

sebagian besar proses seleksi yang berjalan sampai saat ini berdasarkan konsep succesive hurdles. Itu berarti bahwa untuk berhasilnya pelamar tenaga kerja diterima dalam suatu organisasi, mereka harus lulus dari berbagai persyaratan yang telah ditentukan secara bertahap. Mulai dari mengisi blanko lamaran, tes-tes, wawancara, mengecek seluruh latar belakang pribadi pelamar, dan pemeriksaan medis maupun pemeriksaan relevant lainnya, dll.

b.   Pendekatan compensantory

pendekatan yang lain, yang rupanya kurang biasa dipergunakan, didasarkan pada beranggapan bahwa kekurangan pada satu faktor disatu pihak sebenarnya dapat “ditutupi” oleh faktor seleksi lainnya yang cukup baik dipihak lain.

 

6.         Kualifikasi yang Menjadi Dasar Seleksi

Proses seleksi sangat penting dalam memberikan penilaian akan sifat-sifat, watak, dan kemampuan para pelamar secara tepat, teliti dan lengkap. Beberapa kualifikasi berikut ini menjadi dasar dalam proses seleksi..

 

 

a. Keahlian

Merupakan salah satu kualifikasi utama yang menjadi dasar dalam proses seleksi, kecuali bagi jabatan yang tidak memerlukan keahlian. Penggolongan keahlian dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Technical skill,

Yaitu keahlian teknik yang harus dimiliki para pegawai pelaksana.

2.   Human skill,

Yaitu keahlian yang harus dimiliki oleh mereka yang akan memimpin beberapa   orang bawahan.

 

3.   Conceptual skill,

Yaitu keahlian yang harus dimiliki oleh mereka yang akan memangku jabatan     puncak pimpinan sebagai figure yang mampu mengkoordinasi berbagai aktivitas   untuk mencapai tujuan organisasi.

b. Pengalaman

Dalam proses pelamaran suatu pekerjaan, pengalaman pelamar cukup penting artinya dalam suatu proses seleksi. Suatu organisasi/perusahaan cenderung akan memilih pelamar yang berpengalaman dari pada yang tidak berpengalaman karena dipandang lebih mampu melaksanakan tugasnya. Selain itu, kemampuan intelegensi juga menjadi dasar pertimbangan selanjutnya sebab orang yang memiliki intelegensi yang baik biasanya orang yang memiliki kecerdasan yang cukup baik. Faktor pengalaman saja tidak cukup untuk menentukan kamampuan seseorang pelamar dalam menyelesaikan tugasnya dengan baik.

c. Usia

Perhatian dalam proses seleksi juga ditunjukan pada masalah usia para pelamar. Usia muda dan usia lanjut tidak menjamin diterima tidaknya seseorang pelamar. Mereka memiliki usia lanjut tenaga fiisknya relatif terbatas meskipun banyak pengalaman. Mereka yang berusia muda mungkin saja memiliki vitalitas yang cukup baik. Tetapi rasa tanggung jawabnya relatif kurang dibandingkan dengan usia dewasa.  Oleh karena itu, yang terbaik pelamar yang berusia sedang atau sekira usia 30 tahun.

d.   Jenis kelamin

Jenis kelamin memang sering pula diperhatikan, terlebih-lebih untuk jabatan tertentu. Jabatan-jabatan memang dikhususkan untuk pria, ada juga yang khusus untuk wanita. Tetapi banyak juga yang terbuka untuk kedua jenis kelamin tersebut.

e. Pendidikan

Kualifikasi pelamar merupakan cermin dari hasil pendiidkan dan pelatihan sebelumnya, yang akan menentukan hasil seleksi selanjutnya dan kemungkinan penempatanya dalam organisasi bila pelamar yang bersangkutan diterima. Tanpa adanya latar belakang pendidikan tersebut maka proses pemilihan atau seleksi akan menjadi sulit.

f. Kondisi fisik

Kondisi fisik seseorang pelamar kerja turut memegang peranan penting dalam proses seleksi. Bagaimana pun juga suatu organisasi secara optimal akan senantiasa ingin memperoleh tenaga kerja yang sehat jasmani dan rohani kemudian memiliki postur tubuh yang cukup baik terutama untuk jabatan-jabatan tertentu.

g. Tampang

Menurut Drs. Manullang, dalam jabatan-jabatan tertentu, tampang juga merupakan salah satu kualifikasi yang menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam melaksanakan tugasnya. Misalnya, tugas sebagai pramugari, pelayan toko, dll.

h.  Bakat

Bakat atau aptitube seseorang calon pelamar tenaga kerja turut juga pemegang kunci sukses dalam proses seleksi. Bakat ini dapat tampak pada tes-tes, baik fisik maupun psikolog. Dari tes-tes tersebut dapat diketahui bakat yang tersembunyi, yang suatu saat dapat dikembangkan.

 

 

i. Temperamen

Temperamen adalah pembawaan seseorang. Temperamen tidak dipengaruhi oleh pendidikan, namun berhubungan langsung dengan ‘emosi’ seseorang. Menurut Drs. Manullang, temperamen adalah sifat yang mempunyai dasar bersumber pada faktor-faktor dalam jasmani bagian dalam, yang di timbulkan oleh proses-proses biokima. Temperamen seseorang itu bermacam-macam, ada yang periang, tenang dan tentram, bersemangat, pemarah , pemurung, pesimis, dll. Hal ini menentukan sukses tidaknya seleksi atau tempat yang cocok bagi seseorang pelamar bila diterima bekerja dalam organisasi.

J. Karakter

Karakter berbeda dengan tempramen meskipun ada hubungan yang erat antara keduanya. Temperamen adalah faktor ’endogen’, sedangkan karakter adalah faktor ’exogen’. Suatu karakter seseorang dapat diubah melalui pendidikan, sedangkan temperamen tidak dapat diubah.

 

7. Cara Mengadakan Seleksi

Ada beberapa cara seleksi dalam mengadakan pemilihan tersebut menurut Drs.Manullang yaitu sebagai berikut.

a. Seleksi ilmiah

Adalah cara seleksi yang berdasarkan pada data yang diperoleh dari job specification sehingga dengan demikian persyaratan-persyaratan yang ditentukan harus dapat dipenuhi oleh calon karyawan, agar benar-benar sesuai dengan keinginan organisasi. Data bersifat non ilmiah yang masih dipertimbangkan dalam proses seleksi ilmiah, yaitu:

  1. Surat lamaran,
  2. Ijazah sekolah dan daftar nilai,
  3. Surat keterangan pekerjaan atau pengalaman,
  4. Wawancara langsung, dan
  5. Referensi/rekomendasi dari pihak yang dapat dipercaya.

b. Seleksi non ilmiah

Cara kedua ini, pada umumnya banyak digunakan di negara-negara berkembang, seperti di negara kita sendiri. Cara non ilmiah ini, di samping didasarkan pada kelima data di atas sering ditambah dengan faktor-faktor lain, seperti:

  1. Bentuk tulisan dalam lamaran,
  2. Cara berbicara dalam wawancara, dan
  3. Tampang atau penampilan.

 

8.         Teknik Seleksi

a. Teknik seleksi menggunakan interview

Interview atau wawancara lazim digunakan dalam proses  seleksi calon pegawai atau karyawan. Interview atau wawancara bagaimana pun juga memiliki kelemahan, antara lain menurut Drs.Manullang adalah sebagai berikut.

  1. Subyektivitas pewawancara,
  2. Cara mengajukan pertanyaan,
  3. Pengaruh halo.

Terdapat suatu gagasan untuk melenyapkan kelemahan-kelemahan tersebut, seperti yang dikemukakan oleh Mc Merry anatara lain:

  1. Orang yang bertugas menginterview bekerja atas dasar kualifikasi definitif.
  2. Orang yang bertugas menginterview mengetahui pertanyaan yang diajukannya kepada pelamar dan telah disusun terlebih dahulu dengan kata-kata yang mudah dimengerti.
  3. Orang yang bertugas menginterview telah mendapat pelatihan dalam teknik menginterview.
  4. Orang yang bertugas menginterview sudah mendapatkan data-data mengenai diri pelamar terlebih dahulu, baik melalui telepon maupun dari laporan-laporan tertentu.

 

 

b.   Teknik seleksi menggunakan assessment center

Merupakan suatu proses penilaian (rating) yang dinilai sophiscated, yang isinya diarahkan sedemikian rupa sehingga kita dapat meminimalisasikan timbulnya penyimpangan/bias yang sangat mungkin terjadi. Sehingga dapat dipastikan kandidat tenaga kerja yang terlibat dalam proses penilaian tersebut memperoleh suatu kesempatan yang sama untuk memunculkan potensi.

Program assessment center yang didasarkan pada pendekatan multiple merupakan pendekatan yang fleksibel, dalam arti bias diterapkan pada beberapa organisasi tergantung pada kebutuhannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A.        KESIMPULAN

Seleksi maksudnya pemilihan tenaga kerja yang sudah tersedia. Seleksi pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan tenaga kerja yang memenuhi syarat dan memiliki kualifikasi yang sesuai dengan deskrifsi pekerjaan yang ada atau sesuai dengan kebutuhan organisasi/perusahaan.

Beberapa kualifikasi berikut ini menjadi dasar dalam proses seleksi, yaitu Keahlian, Pengalaman, Usia, Jenis kelamin, Pendidikan, Kondisi fisik, Tampang, Bakat, Temperamen, dan Karakter.

Ada beberapa cara seleksi dalam mengadakan pemilihan tersebut menurut Drs.Manullang yaitu sebagai berikut.

a.   Seleksi ilmiah,

b.   Seleksi non ilmiah.

Ada dua cara dalam teknik seleksi, yaitu:

a.   Teknik seleksi menggunakan interview,

b.   Teknik seleksi menggunakan assessment center.

B.        SARAN

Dalam melakukan seleksi tenaga kerja hendaknya setiap organisasi atau perusahaan yang bersangkutan senantiasa berusaha dengan biaya yang serendah mungkin dengan menggunakan cara yang paling efisien, tetapi efektif.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://tarig19.wordpress.com/2008/09/17/manajemen-sdm/seleksi tenaga kerja/

http://www.wikimedia.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=78

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perilaku manusia sangat berbeda antara satu dengan lainnya. Perilaku itu sendiri adalah suatu fungsi dari interaksi antara seseorang individu dengan lingkungannya. Ditilik dari sifatnya, perbedaan perilaku manusia itu disebabkan karena kemampuan, kebutuhan, cara berpikir untuk menentukan pilihan perilaku, pengalaman, dan reaksi affektifnya berbeda satu sama lain.
Pendekatan yang sering dipergunakan untuk memahami perilaku manusia adalah; pendekatan kognitif, reinforcement, dan psikoanalitis. Berikut penjelasan ketiga pendekatan tersebut dilihat dari; penekanannya, penyebab timbulnya perilaku, prosesnya, kepentingan masa lalu di dalam menentukan perilaku, tingkat kesadaran, dan data yang dipergunakan

1. Penekanan.

Pendekatan kognitif menekankan mental internal seperti berpikir dan menimbang. Penafsiran individu tentang lingkungan dipertimbangkan lebih penting dari lingkungan itu sendiri.

Pendekatan penguatan (reinforcement) menekankan pada peranan lingkungan dalam perilaku manusia. Lingkungan dipandang sebagai suatu sumber stimuli yang dapat menghasilkan dan memperkuat respon perilaku.

Pendekatan psikoanalitis menekankan peranan sistem personalitas di dalam menentukan sesuatu perilaku. Lingkungan dipertimbangkan sepanjang hanya sebagai ego yang berinteraksi dengannya untuk memuaskan keinginan.

2. Penyebab Timbulnya Perilaku

Pendekatan kognitif, perilaku dikatakan timbul dari ketidakseimbangan atau ketidaksesuaian pada struktur kognitif, yang dapat dihasilkan dari persepsi tentang lingkungan.

Pendekatan reinforcement menyatakan bahwa perilaku itu ditentukan oleh stimuli lingkungan baik sebelum terjadinya perilaku maupun sebagai hasil dari perilaku.Menurut pendekatan psikoanalitis, perilaku itu ditimbulkan oleh tegangan (tensions) yang dihasilkan oleh tidak tercapainya keinginan.

3. Proses.

Pendekatan kognitif menyatakan bahwa kognisi (pengetahuan dan pengalaman) adalah proses mental, yang saling menyempurnakan dengan struktur kognisi yang ada. Dan akibat ketidak sesuaian (inconsistency) dalam struktur menghasilkan perilaku yang dapat mengurangi ketidak sesuaian tersebut.

Pendekatan reinforcement, lingkungan yang beraksi dalam diri individu mengundang respon yang ditentukan oleh sejarah. Sifat dari reaksi lingkungan pada respon tersebut menentukan kecenderungan perilaku masa mendatang.

Dalam pendekatan psikoanalitis, keinginan dan harapan dihasilkan dalam Id kemudian diproses oleh Ego dibawah pengamatan Superego.

4. Kepentingan Masa lalu dalam menentukan Perilaku.

Pendekatan kognitif tidak memperhitungkan masa lalu (ahistoric). Pengalaman masa lalu hanya menentukan pada struktur kognitif, dan perilaku adalah suatu fungsi dari pernyataan masa sekarang dari sistem kognitif seseorang, tanpa memperhatikan proses masuknya dalam sistem.

Teori reinforcement bersifat historic. Suatu respon seseorang pada suatu stimulus tertentu adalah menjadi suatu fungsi dari sejarah lingkungannya.

Menurut pendekatan psikoanalitis, masa lalu seseorang dapat menjadikan suatu penentu yang relatif penting bagi perilakunya. Kekuatan yang relatif dari Id, Ego dan Superego ditentukan oleh interaksi dan pengembangannya dimasa lalu.

5. Tingkat dari Kesadaran.

Dalam pendekatan kognitif memang ada aneka ragam tingkatan kesadaran, tetapi dalam kegiatan mental yang sadar seperti mengetahui, berpikir dan memahami, dipertimbangkan sangat penting.

Dalam teori reinforcement, tidak ada perbedaan antara sadar dan tidak. Biasanya aktifitas mental dipertimbangkan menjadi bentuk lain dari perilaku dan tidak dihubungkan dengan kasus kekuasaan apapun. Aktifitas mental seperti berpikir dan berperasaan dapat saja diikuti dengan perilaku yang terbuka, tetapi bukan berarti bahwa berpikir dan berperasaan dapat menyebabkan terjadinya perilaku terbuka.

Pendekatan psikoanalitis hampir sebagian besar aktifitas mental adalah tidak sadar. Aktifitas tidak sadar dari Id dan Superego secara luas menentukan perilaku.

6. Data.

Dalam pendekatan kognitif, data atas sikap, nilai, pengertian dan pengharapan pada dasarnya dikumpulkan lewat survey dan kuestioner.

Pendekatan reinforcement mengukur stimuli lingkungan dan respon materi atau fisik yang dapat diamati, lewat observasi langsung atau dengan pertolongan sarana teknologi.

Pendekatan psikoanalitis menggunakan data ekspresi dari keinginan, harapan, dan bukti penekanan dan bloking dari keinginan tersebut lewat analisa mimpi, asosiasi bebas, teknik proyektif, dan hipnotis.

 

B. RUMUSAN MASALAH

Dalam hal ini masalah yang sering ditimbulkan oleh konflik-konflik individual boleh dikatakan banyak terjadi yang mana dapat timbul karena sebab-sebab pribadi dan social.,  disamping itu perlu  mempelajri konteks dasar-dasar  prilaku individu dalam organisasi.

 

 

C. TUJUAN PENULISAN

 

1. sebagai suatu syarat mata kuliyah prilaku organisasi yang dibimbing oleh ibu

RENI MARALIS, SE.MM

2. diharapkan mahasiswa dapat mengetahui dan memahami  dasar-dasar prilaku individu dalam studi prilaku organisasi.

3. sebagai wawasan untuk mengetahui  dan mempelajari bagi mahasiswa.

BAB II

PEMBAHASAN

1. DASAR – DASAR PRILAKU INDIVIDU

Karekteristik bigrafis mis (usia, jenis kelamin, status kawin, banyaknya tanggungan, masa kerja) pada diri individual sering dikaitkan dengan kinerja seseorang dalam organisasi. Banyak yang meyakini bahwa ada hubungan-hubungan yang berkaitan dengan, misalnya, tingkat kepuasan kerja, tingkat absensi, keinginan untuk maju, dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah analisis ,mengenai beberapa karakteristik biografis tersebut :

  1. Usia

Hubungan antara usia dan kinerja diperkirakan akan terus menjadi isu yang penting dimasa yang akan datang. Hal ini setidaknya disebabkan oleh 3 alasan, yaitu : keyakinan yang meluas bahwa kinerja merosot seiring dengan usia, realita bahwa angkatan kerja menua, dan mulai adanya perundang-undangan yang melarang segala macam bentuk pension yang bersifat perintah.

Dalam bekerja, umumnya majikan para orang tua menemukan sejumlah kualitas seperti pengalaman, pertimbangan, etika kerja, dan komitmen terhadap mutu. Selain itu, kemungkinan pekerja yang sudah tua akan keluar dari pekerjaan sangatlah kecil karena mereka tidak memiliki bayak alternatif lagi. Karyawan tua juga memiliki tingkat kemangkiran yang disengaja lebih rendah, sedangkan kemangkiran untuk hal-hal tak terhindarkan, seperti sakit, lebih tinggi. Sedangkan mengenai produktivitas yang ikut melemah, hal tersebut tidak terbukti benar adanya.

  1. Jenis kelamin

Dari segi jenis kelamin, umumnya tidak ada perbedaan yang konsisten antar pria dan wanita dalam hal kemampuan memecahkan masalah, ketrampilan analisis, dorongan kompetitif, motivasi, sosiabilitas, produktivitas pekerjaan, kepuasan kerja, atau kemampuan belajar. Namun hasil studi menunjukkan bahwa wanita lebih bersedia mematuhi wewenang dibandingkan pria yang lebih agresif dan lebih besar kemungkinannya dalam memiliki pengharapan untuk sukses, namun tetap saja perbedaannya kecil.

Biasanya, yang membuat ada perbedaan adalah karena posisi wanita sebagai ibu yang juga harus merawat anak-anaknya. Ini juga yang mungkin menimbulkan anggapan bahwa wanita lebih sering mangkir daripada pria. Jika anak-anak sakit, tentulah ibu yang akan merawat dan menemani dirumah.

  1. Status perkawinan

Hasil riset menunjukkan bahwa karyawan yang menikah lebih sedikit absensinya, mengalami pergantian yang lebih rendah, dan lebih puas terhadap pekerjaan mereka. Dengan adanya perkawinan, karyawan memiliki peningkatan tanggung jawab yang besar seperti memiliki pekerjaan tetap atau kehidupan yang mapan.

  1. Masa kerja

Karyawan yang telah menjalankan suatu pekerjaan dalam masa tertentu produktivitas dan kepuasannya akan meningkat, sementara tingkat kemangkiran berkurang dan kemungkinan keluar masuk karyawan lebih kecil. Masa kerja adalah peramal yang cukup baik mengenaikecenderungan karyawan seperti diatas.

Dan dilihat dari segi kemampuan :

Dalam memiliki pengalaman, karyawan juga perlu memiliki kemampuan intelektual yang tinggi. Yang dimaksud dengan kemampuan intelektual ini adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan kegiatan mental. Ada banyak tes yang dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat kemampuan intelektual seseorang, seperti : tes IQ, SAT, ACT, GMAT, LSAT, dan MCAT.

Ada 7 dimensi yang membentuk kemampuan intelektual seseorang, yaitu : kemahiran berhitung, pemahaman verbal, kecepatan perceptual, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi ruang, dan ingatan. Tes atas semua dimensi diatas akan menjadi predictor yang tepat untuk menilai kinerja keseluruhan karyawan.Setelah kemampuan intelektual, ada yang disebut kemampuan fisik, yaitu adalah kemampuan yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut stamina, kecekatan , kekuatan, dan ketrampilanm fisik lainnya. Kemampuan fisik ini tentu saja disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang dijalankan. Seorang manajer dapat menilai seberapa banyak kemampaun intelektual dan fisik yang harus dimiliki karyawannya. Ada 9 kemampuan fisik dasar yang porsinya dimiliki secara berbeda-beda oleh tiap individu. Tentu saja, porsi yang dituntut oleh tiap jenis pekerjaan juga berbeda-beda. Kemampuan fisik dasar tersebut adalah : kekuatan dinamis, kekuatan tubuh, kekuatan statis, kekuatan, keluwesan extent, keluwesan dinamis, koordinasi tubuh, keseimbangan, dan stamina.

Agar kinerja yang baik dapat dicapai, kesesuaian antara pekerjaan dengan kemampuan yang dimiliki karyawan sangat penting. Apabila karyawan kekurangan kemampuan yang disyaratkan, kemungkinan besar mereka akan gagal. Jika karyawan memiliki kemampuan tambahan yang tidak disyaratkan dalam pekerjaan, tentu hal tersebut dapat menjadi nilai tambah. Namun jika jumlah kelebihan jauh melampaui apa yang dibutuhkan pekerjaan, akan ada ketidakefisienan organisasional dan kepuasan karyawan mungkin merosot. Manajer juga mungkin perlu membayar upah yang lebih tinggi atas kelebihan tersebut.

Setelah kesesuaian antara pekerjaan-kemampuan tercapai, setiap karyawan perlu memahami konsep pembelajaran, yaitu setiap perubahan yang relative permanen dari perilaku yang terjadi sebagai hasil pengalaman.

Ada beberapa teori pembelajaran :

– Pengkondisian klasik : suatu tipe pengkondisian dimana seorang individu menanggapi beberapa rangsangan yang tidak akan selalu menghasilkan respon yang sama.

– Pengkondisian operan : suatu tipe pengkondisian dimana perilaku sukarela yang diinginkan menyebabkan suatu penghargaan atau mencegah suatu hukuman.

– Pembelajaran sosial : yaitu bahwa orang dapat belajar melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Sering juga disebut teori pembelajaran sosial, ada proses-proses yang harus dialami didalamnya agar pembelajaran berlangsung baik, yaitu : proses perhatian, proses penahanan, proses reproduksi motor, proses penguatan.

Selain pembelajaran seperti diatas, manajer juga perlu melakukan pembentukan perilaku karyawan sebagai suatu alat manajerial. Karyawan harus berperilaku dengan cara-cara yang paling memberi manfaat bagi organisasi.

Ada 4 metode pembentukan perilaku/sikap, yaitu :

– Penguatan positif : bila suatu respon diikuti dengan sesuatu yang menyenangkan, misalnya pujian.

– Penguatan negatif : bila suatu respon diikuti oleh dihentikannya atau ditarik kembalinya sesuatu yang tidak menyenangkan, misalnya berpura-pura bekerja lebih rajin sangat pengawas berkeliling.

– Hukuman : mengakibatkan suatu kondisi yang tidak enak dalam suatu usaha untuk menyingkirkan perilaku yang tidak diinginkan. Misalnya : Penskorsan

– Pemunahan : menyingkirkan penguatan apa saja yang mempetahankan perilaku. Misalnya tidak mengabaikan masukan dari bawahan akan menghilangkan keinginan mereka untuk menyumbangkan pendapat.

Dari hasil riset, didapati bahwa melalui penguatan akan didapati hasil yang lebih mengesankan dibandingkan melalui hukuman dan pemunahan.

Didalam pelaksanaannya, ada beberapa jenis jadwal penguatan yang dapat dipilih, yaitu :

– Penguatan berkesinambungan : perilaku yang dinginkan diperkuat tiapkali perilaku itu diperagakan,

– Penguatan terputus-putus : perilaku yang dinginkan diperkuat cukup sering untuk emmbuatnya berharga untuk diulang, tetapi tidak setiap kali diperagakan perilaku itu diperkuat.

– Jadwal interval pasti : ganjaran-ganjaran yang didistribusikan pada selang waktu yang seragam.

– Jadwal interval variabel : ganjaran didistribusikan menurut waktu sedemikian sehingga penguatan tidak dapat diramalkan.

– Jadwal rasio pasti : ganjaran diberikan setelah sejumlah respon yang jumlahnya pasti.

– Jadwal rasio-variabel : ganjaran beraneka sehubungan dengan perilaku individu.

Ada beberapa penerapan organisasional yang spesifik lainnya yang dapat diterapkan di organisasi untuk membentuk perilaku karyawan yang sesuai, diantaranya : menggunakan lotere untuk mengurangi kemangkiran, tunjangan sehat vs. tunjangan sakit, disiplin karyawan, mengembangkan program pelatihan, menciptakan program mentor, dan swa-manajemen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. 1. KESIMPULAN

Pada diri individual sering dikaitkan dengan kinerja seseorang dalam organisasi.banyak yang meyakini bahwa adanya hubungan – hubungan yang berkaitan dengan misalnya tingkat kepuasan kerja,tingkat absensi,keinginan untuk maju.dalam hal ini dapat dilihat dari kareteristik biografis ,kemampuan ,pembelajaran ,dan sikap dalam suatu prilaku organisasi.

 

  1. 2. SARAN

Adapun saran dari penulius adalah :

  1. Apabila ingin mengetahui lebih banyak mengenai materi perkuliahan PERILAKU ORGANISASI Rekan-rekan Mahasiswa dapat mencari bahannya diPerpustakaan atau media lainnya.
  2. Apabila ada kekurangan dalam Makalah ini bagi sipembaca mohon kritik dan sarannya yang bersifat membangun.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Winardi,j.2004.Manajemen Perilaku Organisasi.Bandung,Prenada Media